Jumat, 09 Oktober 2009

Apa manusia itu...

Apakah Manusia.
Apakah manusia itu? Pertanyaan ini hendak mencari kejelasan, dimanakah “tempat” manusia dalam keseluruhan realitas. (John W.M.Verhaar,S.J.,1991:11). Dimana kalau dittelusuri lebih jauh,pertanyaan tersebut mengindikasikan suatu pembedaan atau reifikasi pemahaman filosofis tentang manusia.
Dalam kerangka ini, terhadap pertanyaan tersebut dapatlah
diberikan jawabannya sebagai berikut
Manusia (al insan ,basyar,bani Adam ,al nas,man) Dalam islam adalah mahluk ciptaan Allah yang terbaik (QS.95 Al-Tiin:4). Mula-mula manusia itu diciptakan oleh Allah dari tidak ada sama sekali – lam yaku syaian (QS.19 Maryam:67). Kemudian Allah menciptakan manusia dalam beberapa tingkatan kejadian (QS.71 Nuh:14)
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS.95 Al Tiin:4). Dan tidaklah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu ,sedang ia tidak ada sama sekali (QS. 19 Maryam:67) padahalDia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalambeberapa tingkat kejadian(QS.71 Nuh:14).
Manusia pertama (Adam) diciptakan oleh Allah dari tanah/thin.(QS.7 Al-A’raf:12;QS Al-Isra’:61;QS.As-Sajadah:7). Atau dari saripati/ekstrak (dari) tanah sulalahmin thin (QS.23 Al-Mu’minun :12) atau dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur tanah hitam yang dibentuk(QS.15 Al-Hijr:26,28,33) atau dari turab(debu tanah atau sel),yang kemudian difirmankan oleh Allah : Jadilah kamu (seorang manusia),maka jadilah ia (QS.3Ali-Imran:59).
Allah berfirman : Apakah yang menghalangimu untuk bersjud(kepada Adam) diwaktu aku menyuruhmu? Menjawaab iblis : Engkau ciptakan saya dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah(QS.7 Al-A’raf:12)
Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan)Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: Jadilah (seorang manusia) maka jadilah ia. (QS. Ali-‘Imran:59).
Kemudian, manusia kedua (hawa) diciptakan oleh Allah daripadanya (Adam). (QS,An-Nisa’:1).Dan berdasarkan hadist riwayat Bukhari Muslim, Hawa diciptakan oleh Allah dari bagian tubuh(tulang rusuk) Adam.
Dari suami istri Adam dan Hawa inilah manusia-manusia generasi penerusnya diciptakan Allah melalui tingkatan-tingkatan kejadian sebagai berikut:
Setetes mani yang ditumpahkan.(QS.75 Al-Qiyamah:3);Atau nutfah (yang tersimpan) dalam temmpat yang kokoh/rahim.(QS.23 Al-Mu’minun:13);atau air (mani) yang hina (QS.32 As-Sajadah:8)
Alaqoh /segumpal darah (QS. Al-Hajj:5)
Mudlghah/ segumpal daging(QS.23 Al-Mu’minun:14)
Tulang belulangyang dibungkus dengan daging(QS.Almu’minun:14)
setelah dijadikan pada janin itu pendengaran,penglihatan dan hati. Maka ditiupkan kedalam tubuhnya ruh(ciptaan)-Nya(QS.32 Al-Sajadah:9). Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim,Rasulullah SAW. Bersabda: “sesungguhnya engkau diciptakan dalam perut ibumu 40 hari sebagai nutfah,kemudian semisal itu pula sebagai ‘alakoh,kemudian semisal itu pula sebagai mudlghah,kemudian di utus kepadanya malaikat ,maka malaikat meniupkan ruh kedalamnya. Menurut H.M. Rasyidi,ruh yang sifatnya immateri ini mempunyai daya-daya. Diantara salah satunya adalah daya fikiryang disebut akal dan berpusat di otak/kepala.(H.M.Rasyidi, 1984:5)
bayi itu dilahirkan(QS.22 Al-Hajj:5) Demikian proses kejadiian yang dilalui manusia setelah generasi Adam Hawa. Hanya satu orang saja yang dikecualikan dari proses yang wajar itu. Yaitu ‘Isa ibn Maryam.Karena proses penciptaan ‘isa oleh Allah diserupakan dengan penciptaan Adam.Yakni diciptakan oleh Allah dari turab, yang kemudian difirmankan : kun fayakun, jadilah kamu (seorang manusia), maka jadilah ia.
Seperti halnya Adam, maka ‘Isa juga diciptakan oleh Allah dengan tanpa pembuahan (parthenogenesis). (A.Baiquni,1983:63). Hanya saja bedanya, kalau ‘Isa dikandung oleh ibunya (Maryam).sedangkan Adam tidaklah dikandung oleh siapapun, karena memang ia manusia pertama. Jika manusia pertama (Adam) diciptakan dari tanah, maka makhluk-makhluk Allah yang lain diciptakanNya diciptakan dari materia yang berbeda-beda pula.Malaikat diciptakan oleh Allah dari Nur (cahaya). Iblis diciptakan-Nya dari api.(QS.7 Al-A’raf:12). Jin diciptakan-Nya (sebelum Adam) dari api yang sangat panas.(QS. 15 Al Hijr : 27). Hewan diciptakan-Nya dari air (QS.24 An-nur:45). Dan makhluk yang hidup lainnya diciptakan-Nya dari air juga.(QS.21 Al-Anbia:30).

Siapa Manusia.
Maksud pertanyaan, siapakah manusia, di sini hendak mendekati manusia dari sudut pengalaman atau yang mungkin akan di alami oleh manusia itu sendiri.yakni mengendalikan adanya kesadaran bahwa manusia ini merupakan makhluk yang khas.
Berkaitan dengan paparan tersebut diatas yang menyangkut materi peertama menciptakan berbagai makhluk, maka yang menjadi pertanyaan berikut adalah: siapakah sebenarnya manusia itu sehingga ia dikatakan sebagai makhluk ciptaan Allah yang terbaik? Sebab kalau melihat materia dasar penciptaan sih, tak akan pernah dapat dikatakan bahwa tanah itu lebih baik daripada air. Apalagi lebih baik daripada cahaya. Karena menurut oknum iblis, justru api sesungguhnya yang lebih baik.
Oleh karena itu, kalau dikatakanbahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang terbaik,tentulah bukan karena alasan materi awal penciptaan ini. Jadi menurut hemat penulis,ja wab yang benar dari pertanyaan, siapakah manusia itu sehingga dikatakan sebagai makhluk ciptaan Allah yang terbaik? Manusia itu adalah makhluk (ciptaan Allah) potensial mulai disisi-Nya yang multi dimensial.(QS.96Al-‘Alaq:3;QS.55 Al-Rahman:27,28; QS.49 Al-Hujarat:13).
Dikatakan potensial mulai disi-Nya, karena manusia pada waktu itu dilahirkan adalah dalam keadaan tidak mengetahui suatu apapun,meskipun perangkat dirinya seperti pendengaran,penglihatan dan hatinya telah sempurna secara fisis(QS.16 An-Nahl:78). Sehingga hanya dengan pendidikan dan pelatihan yang baik sajalahyang menghantarkan manusia ke arah kemuliaan disisi-Nya. Karena apabila tidak mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang baik atau bahkan buruk,maka bukan lagi kemuliaan yang di dapat, tetapi sebaliknya kerendahan atau kehinaan yang serendah-rendahnya.(QS.95 At-Tiin:5).
Jadi keunikan demikianlah yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk-makhluk Allah yang lain. Melalui perjuangan yang terus-menerus untuk tidak jatuh ke dalam kerendahan itulah,manakala manusia berada dalam puncak kemuliaannya,menjadilah manusia itu yang terbaik (The best) dibandingkan dengan makhluk-makhluk ciptaan Allah yang lainnya.
Disamping itu,sifat multidimensional yang dimiliki oleh manusia,semakin semakin memperbedakan dengan makhluk-makhluk lain ciptaan-Nya,yang sekaligus memberikan nilai tambah bagi predikat terbaik yang disandang manusia.
Sifat-sifat multidimensional manusia yang tidak dimiliki lengkap oleh mahluk ciptaan Allah lainnya antara lain:
Manusia mempunyai bentuk fisik yang sebaik-baiknya. (QS. 32 As-Sajadah:9;QS.95 At-Tiin:4) segi kelebihan fisis manusia ini kalau diperbandingkan dengan binatang misalnya: dalam hal ini binatang dan manusia sama-sama mempunyai hati,mata dan telinga. Akan tetapi hati,mata dan telinga manusia saja dapat menerima kebenaran dan menolak ketidakbenaran. Sedangkan padanhewan tidak.(QS.7 Al-A’raf:179: T Jacob Ms.M.D.et al., 1984:139).
Manusia mempunyai potensi kerohanian yang tidak terhingga banyaknya.hal ini amat boleh jadi sebagai akibat atas penipuan ruh (ciptaan-Nya) dalam tubuh manusia.(QS. 32 As-Sajadah:9).
Potensi- potensi kerohanian manusia menampak dalam bentuk:
1) Manusia dapat (capable) memahami sesuatu ulil-albab. (QS. 39 Az-Zumar:21).
2) Manusia dapat berfikir / merenung, yakni memikirkan dan merenungkan peristia-peristiwa alam. ( QS.45 Al-Jatsiyah:13).
3) Manusai dapat mempergunakan akalnya. (QS.2 Al-Baqarah: 164). Penggunaan akal ini utamanya erat berkaitan dengan:
a) Al-dzaka’,yakni kemampuan untuk berbagai kemahiran.
b) Idrak, yakni pengertian inderaawi.
c) Al-tadzakkar , yang memungkinkan akal untuk kembali mengingat yang telah dipelajari sebelumnya
d) Al-Takhayyul, gambaran angan-angan yang melambung.
e) Al-tafsir, yakni berkaitan dengan keadaan pemakaman dan pemahaman,ataupun dalam hal penemuan keterkaitan antar sesuatu. ( Intishar Yunus, 1967:115-119).
4) Manusia dapat percaya,beriman.(QS. 27 An-Nahhl:86).
Percaya hingga beriman ini lazimnya diartikan sebagai pembenaran dalam hati, mengucapkan secara lisan, dan merealisasikan tindakannya dalam perilaku konkret.
5) Manusia dapat bertaqwa. (QS.2 Al-Baqarah:2).
Mengenai taqwa ini,Fazlur Rahman dalam bukunya Islam and Modernity memberikan penjelasan bahwa konsep sentral manusia adalah taqwa yang biasanya diterjemahkan sebagai kesalehan atau takut kepada Tuhan. Akan tetapi dalam berbagai konteks Al-Qur’an, semestinya taqwa itu dapat didefinisikan sebagai keadaan mental yang bertanggung jawab darimana tindakan-tindakan mannusia bersumber,tetapi yang mengakui bahwa kriteria penilaian tindakan-tindakan tersebut terletak di luar dirinya.keseluruhan urusan Al-Qur’an tampaknya berpusat pada upaya untuk menanamkan keadaan mental yang demikian dalam diri manusia. (Fazlur Rahman, 1982:155).
6) Manusia dapat mendengarkan kebenaran firman Tuhan. (QS.16 An-Nahl:13).
7) Manusia dapat mendengarkan kebenaran firman Tuhan. (QS.30 Ar-Rahman:22; Mahdi Ghulsyani, 1993:100-102).
8) Manusia dapat berilmu/’alim.(QS.30 Ar-Rahman:22).
Ilmu yang benar menurut Morris R. Cohen adalah yang dapat menguraikan berbagai pengalaman pentingmanusia secara teliti.
Penekanannya diseimbangkan antara metode filosofis dan metode ilmiah. (Joseph L. Blau, 1966:335)
9) Manusia dapat berkesenian. (QS.16 An-Nahl:6).
Menurut Langer, seni adalah kreasi bentuk simbolis itu berasal dari pikirannya,maka akan di hasilkan ‘insight’ filosofis. Akan tetapi kalau berasal dari perasaan, maka yang akan dihasilkannya adalah insight estetis. ( M. Sastraptedja, 1983: 74-75).
10) Manusia dapatmenguasai tekhnologi tepat guna. (QS.11 Hud:38;QS.21 Al-Anbiya’ :80-81).
11) Manusia lahir ke dunia telah membawa fitrah.
Secara umum, kata fitrah yang berakar dari fathara berarti suatu macam atau cara penciptaan. ( H.A.R. Gibb, J.H. Kramers, 1961:1908; M.Th. Houtma et al., 1987:115;B. Lewis et al.,1965:931 ). Kemudian oleh Muhammad Farid fajdi, fitrah itu diartikan sebagai membelah,memecah, menjadikan besar, berbuka, perangai, kejadian, asli, agama, ciiptaan maupun pikiran yang tidak matang,yang belum masak, yang baru. ( Muhammad Farid Fajdi,1971:311).
Adapun cara khusus Qur’aini, kata fitrah berikut kata-kata jadiannya di dalam Al-Qur’an mempunyai beberapa kata sebagai berikut:
Fitrah bermakna agama ( Taukhid ); agama yang lurus.( QS. 30 Ar-Rahman:30).
Fitrah bermakna menjadikan sesuatu yang baru. ( QS. 14 Ibrahim:10 ).
Fitrah bermakna pecah atau koyak.( QS.82 Al-Infithar:1).
Jadi berkaitan dengan fitrah ini,maka yang di maksud dengan fitrah Allah adalah ciptaan Allah yang berupa agama, agama yang lurus yang tidak lain adalah agama Islam. Sedangkan maksud daripada fitrah manusia adalah kesediaan secara aktif dari jjiwa manusia untuk menerima fitrah Allah. Yakni sebagai bekal bagi keserbabaikan manusia hidup di dunia dan akhirat.
Demikianlah pokok-pokok (lebih tepat dikatakan sebagian kecil) sifat multidimensional manusia, yang potensional positif. Karena tidak sedikit pula sesungguhnya sifat potensial negatif yang dimiliki manusia. Misalnya sifat bohong. (QS. As-Syams:14). Berbuat jelek. ( QS. 7 Al-A’raf :28). Berkata dusta, ingkar janji menghianati amanat, sebagai tanda munafik.( H.R. Bukhari Muslim ; Ahmad Hasyim, 1984:3) dan sebbagainya.
Oleh karena itu, semakin nampak peran penting pendidikan islam guna menekan, bahkan mengikis potensi-potensi negatif itu agar tidak muncul aktual akan tetapi sebaliknya justru dituntut untuk memacu tumbuh dan berkembangnya potensi manusia itu agar menjadi makhluk yangtermulia dan penuh kepositifan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar